Bilal bin Rabah & Kejayaan Islam (Madinah, 7 Shafar 1439 H)

Dalam kesempatan Jum’at kali ini, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bu’aijan menyampaikan khutbahnya dengan judul “Bilal bin Rabah & Kejayaan Islam”. Dalam khutbahnya, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bu’aijan berbicara tentang kondisi yang dialami umat Islam akhir-akhir ini jika dibandingkan dengan kisah Bilal bin Rabah Radhiyallâhu Anhu yang memiliki pendirian teguh dalam memegang Islam hingga bisa melihat mantan majikannya Umayyah bin Khalaf yang pernah menyiksanya terbunuh dan Islam berjaya di Makkah.        

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ ِللهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ الْجِهَادِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِه، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ: 

فَإِنَّ خَيْرَ الحْدَيِثْ كَلاَمُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل عمران: ١٠٢]  

Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah. Kepada-Nya, kami memuji, meminta tolong, dan meminta ampun. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri dan amal perbuatan kami. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang telah menunaikan Risalah, menyampaikan amanah, menasihati umat dan berjuang di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad hingga ajal datang menjemput. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat, tabiin dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Kiamat. Tak lupa pula salam penghormatan sebanyak-banyaknya tercurah kepada beliau. Ammâ ba’d:

Sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah Firman Allah dan tuntunan yang paling baik adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu Alaihi wa Sallam. Sedangkan perkara yang paling buruk adalah hal-hal baru yang dimunculkan dalam agama, dan semua bid’ah adalah kesesatan dan semua kesesatan di dalam api neraka. “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Qs. Âli Imrân [3]: 102) 

Saudara-saudaraku kaum muslimin!

Fitnah, bala`, musibah, malapetaka, dan dominasi musuh yang menerpa umat Islam saat ini sejatinya adalah ujian, proses penyeleksian, awal pertolongan dan kejayaan dengan izin Allah.  Karena Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيْزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ﴾ [آل عمران: ١٧٩]

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, hingga Dia menyeleksi yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (Qs. Âli Imrân [3]: 179)

Dalam ayat lain, Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوءا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ﴾ [البقرة: ٢١٤]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) hingga Rasul dan orang-orang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah pertolongan Allah datang?’ Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu amatlah dekat.” (Qs. Al Baqarah [2]: 214)

Saudara-saudaraku kaum muslimin!

Dahulu, ada seorang pria disiksa lantaran mempertahankan agamanya dengan cara dikubur ke dalam tanah. Lalu, kepalanya dibelah dengan gergaji hingga terbelah menjadi dua, namun cobaan itu tidak menggoyahkan dirinya dari keyakinan yang dianutnya. Tak sampai di situ saja, tubuhnya pun disisir dengan sisi besi hingga tembus ke tulang belulangnya, namun ujian itu tak memalingkannya dari agamanya. Demi Allah, Allah Subhânahû wa Ta’âla pasti menyempurnakan Islam, karena Dia berfirman,

﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾ [الحج: ٤٠]

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Hajj [22]: 40)

Hamba Allah!

Sejarah mencatat bahwa ada 7 orang sahabat yang memproklamirkan keislamannya secara terbuka, yaitu Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Ammar bin Yasir, Sumayyah (ibunya Ammar), Shuhaib, Bilal, dan Miqdad. 

Ketika itu Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam dibela oleh paman beliau Abu Thalib dan Abu Bakar dibela oleh kaumnya. Adapun sahabat-sahabat lainnya, mereka disiksa oleh orang-orang musyrik Makkah. Tak satu pun dari sahabat-sahabat tersebut kecuali luluh dan mengikuti keinginan orang-orang musyrik Makkah. Kecuali Bilal, dia menyerahkan jiwa dan raganya karena Allah dan rela dihina oleh kaumnya. Orang-orang musyrik pun mulai menyiksa Bilal agar dia mau kembali memeluk agama nenek moyangnya. Namun Bilal menghadapi mereka dengan ketegaran dan keteguhan hati, sehingga orang-orang musyrik Makkah semakin gencar menyiksanya.  

Majikan Bilal ketika itu, Umayyah bin Khalaf, mengeluarkan Bilal di tengah terik panas matahari lalu menjemurnya dengan telanjang dada di padang pasir Makkah. Kemudian dia memerintahkan untuk meletakkan batu besar di atas dadanya, lalu berkata, “Engkau akan terus disiksa seperti itu sampai engkau mati atau tidak lagi mempercayai ajaran Muhammad.” Sumayyah bin Khalaf juga berkata, “Hai budak jelek! Keburukan apakah yang engkau bawa kepada kami. Jika engkau tidak menyebut kebaikan tuhan kami, maka kami pasti membuatmu menyesal seumur hidup.”

Kemudian Bilal Radhiyallâhu Anhu menjawab dengan tegar, “Tuhanku adalah Allah. Dia Maha Esa. Dia Maha Esa. Andai aku tahu ada ucapan yang bisa membuat kalian marah dengannya, aku pasti mengatakannya.”

Saat siksaan yang dialaminya mencapai titik puncak, Abu Bakar Radhiyallâhu Anhu pun membeli Bilal dan memerdekakannya karena Allah Subhânahû wa Ta’âla. Karena itulah turun firman-Nya, 

﴿وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى (١٧) الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (١٨) وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى (١٩) إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى (٢٠) وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)﴾ [الليل: ١٧ – ٢١]

“Dan kelak orang yang paling takwa akan dijauhkan dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi, dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (Qs. Al-Lail [92]: 17-21)

Hari terus berlalu, Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam dan umat Islam pun hijrah ke Madinah, tak terkecuali Bilal Radhiyallâhu Anhu. Dia ditunjuk sebagai Muadzin dan ikut bersama Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam dalam perang Badar. Ketika itu pentolan-pentolan musyrik Makkah, seperti Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal, ikut turun dalam peperangan tersebut. Mereka maju ke medan laga dengan penuh keangkuhan dan kesombongan. Jumlah pasukan kaum musyrikin saat itu kurang lebih 1000 pasukan ditemani oleh biduanita yang bertugas memukul rebana sambil menyanyikan lagu yang mencela pasukan Islam. Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak akan kembali sampai kami sampai di Badar, lalu tinggal di sana selama 3 hari, menyembelih unta, makan-makan, menenggak khamer, sambil ditemani biduanita dan agar bangsa Arab mendengar perjalanan dan persatuan kami, sehingga mereka selalu merasa takut dengan kami.”

Dalam perang tersebut, jumlah pasukan umat Islam 300 lebih, dan Miqdad adalah satu-satunya kesatria berkuda saat itu.    

Perang pun pecah dan dengan kehendak Allah, umat Islam yang tak berdaya memperoleh kemenangan serta berhak memimpin di muka bumi. Ketika melihat mantan majikannya, Umayyah bin Khalaf yang pernah menyiksanya di Makkah, Bilal langsung membelah barisan pasukan dan berkata, “Pentolan kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak akan selamat jika dia (Umayyah bin Khalaf) berhasil lolos! Pentolan kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak akan selamat jika dia berhasil lolos!” Akhirnya Bilal berhasil membunuh Umayyah bin Khalaf. Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallâhu Anhu menggubah bait syair,

هَنِيْئًا زَادَكَ الرَّحْمَنُ عِزًّا # فَقَدْ أَدْرَكْتَ ثَأْرَكَ يَا بِلاَلُ

“Selamat bagimu wahai Bilal! Semoga Ar-Rahmân menambah kemuliaan kepadamu. Sungguh engkau telah membalas dendammu.”

Sedangkan Abu Jahal, dia maju ke medan perang dengan kepongahan dan keangkuhan. Kemudian Allah Subhânahû wa Ta’âla menimpakan kehinaan kepadanya lewat tangan dua orang pemuda Madinah, keduanya adalah putra Afra`. Karena itu, Abu Jahal pun menyesali kejadian tersebut dan berkata, “Andai bukan anak kecil yang membunuhku maka itu lebih aku sukai dan membanggakan bagiku serta tidak mengurangi martabatku.” Kemudian Ibnu Mas’ud Radhiyallâhu Anhu datang lalu meletakkan kakinya di atas leher Abu Jahal dan berkata, “Wahai musuh Allah! Semoga Allah menghinakan dirimu.” Mendengar itu Abu Jahal menyanggah dan berkata sebelum nyawanya meninggalkan raganya, “Sungguh engkau telah menaiki tangga yang sulit dinaiki wahai pengembala domba!”

Tatkala terjadi Fathu Makkah, Bilal bin Rabah Radhiyallâhu Anhu naik ke atas Ka’bah lalu mengumandangkan kalimat Tauhîd dengan suara lantang tak jauh beberapa langkah dari tempat dia dulu disiksa. Ketika waktu Zhuhur tiba dan matahari berada tepat di atas kepala, Bilal mengumandangkan adzan hingga mengobarkan kemarahan musuh-musuhnya lalu salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh Allah telah memuliakan ayahku jika dia meninggal tanpa mendengar lantunan ini.”  Yang lain pun berkata, “Andai saja aku meninggal sebelum mendengar lantunan ini!”

Saudara-saudaraku kaum muslimin!

Bilal Radhiyallâhu Anhu tidak pernah bisa mencapai posisi mulia dalam Islam seperti ini sebelum dia diuji, bersabar dan berjuang. Karena itu, Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوْا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ﴾ [آل عمران: ٢٠٠]

“Hai orang-orang beriman, bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) serta bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Qs. Âli Imrân [3]: 200)

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ للهِ مُظْهِرُ الْحَقِّ وَرَافِعِهِ، وَمُذِلِّ الْبَاطِلِ وَدَافِعِهِ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 

Segala puji bagi Allah yang memenangkan dan mengangkat kebenaran, menghinakan dan menolak kebatilan, yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar agar unggul dari semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bershalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. 

Hamba Allah!

Allah Subhânahû wa Ta’âla sengaja mengulur dan menangguhkan hukuman bagi orang zhalim hingga ketika hukuman-Nya diturunkan, tak sedikit pun darinya yang tersisa. 

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِأَنْفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوْا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾ [آل عمران: ١٧٨]

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi penangguhan kepada mereka hanyalah supaya dosa mereka semakin bertambah dan mereka memperoleh adzab yang menghinakan.” (Qs. Âli Imrân [3]: 178) 

Penyiksaan yang dialami kaum muslimin Makkah di awal kemunculan Islam adalah ujian dan bala`. Itu semua bertujuan untuk mempersiapkan generasi baru, posisi yang baik dan kemenangan, serta proses Allah menyingkirkan orang-orang yang buruk. Waktunya pun tak lama karena Allah Subhânahû wa Ta’âla hendak menjadikan orang-orang yang tertindas lagi terzhalimi di muka bumi sebagai pemimpin, pewaris bumi dan pemegang kekuasaan. Lalu tanpa disadari, kemusyrikan, kekufuran dan kezhaliman dihabisi dengan pedang dan budak-budaknya sendiri, seperti Bilal menghabisi Umayyah bin Khalaf, Ibnu Mas’ud menghabisi Abu Jahal. Kemudian rasa dahaga yang selama ini menyertai mereka terpuaskan dan dendam mereka terbalaskan. 

﴿وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾ [الحج: ٤٠]

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al Hajj [22]: 40)

Hamba Allah!

Kemuliaan seseorang di sisi Allah Subhânahû wa Ta’âla diukur dengan amal kebajikan, bukan dengan garis keturunan, jabatan, harta dan status sosial. Kedudukan manusia sama saut dengan lainnya seperti halnya gerigi sisir. Kita semua berasal dari Adam dan Adam berasal dari tanah. Bangsa Arab tidak lebih mulia dari bangsa non Arab kecuali dengan ketakwaan.

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوْا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾ [الحجرات: ١٣]

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al Hujurât [49]: 13)

Bisa jadi hamba yang selalu menyembunyikan kebaikannya, bertakwa, tidak digubris dan selalu ditolak jika meminta memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah dan doanya mustajab. Andai dia bersumpah, maka Allah pasti mengabulkan permintaannya.

Ketika Abu Dzar Al Ghifari Radhiyallâhu Anhu mencela Bilal dengan berkata, “Wahai Anak hitam!” Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam langsung naik pitam dan bersabda,

يَا أَبَا ذَرٍّ! أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ؟! إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَاهِلِيَّةٌ.

“Wahai Abu Dzar! Engkau mengatai Bilal dengan mencela ibunya?! Sungguh engkau adalah orang yang memiliki perilaku jahiliyyah.” (HR. Al Bukhari) 

Tak hanya itu, Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan kabar gembira kepada Bilal perihal surga yang diperolehnya, beliau bersabda,

يَا بِلاَلُ! حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ.

“Wahai Bilal! Coba ceritakan kepadaku perbuatan yang paling senang engkau lakukan dalam Islam, karena sungguh aku mendengar suara kedua alas kakimu di hadapanku di surga.” (HR.  Al Bukhari dan Muslim)  

Saudara-saudaraku kaum muslimin!

Orang-orang musyrik terkejut ketika mendengar suara Bilal bin Rabah mengumandangkan adzan di atas Ka’bah. Jika adzan Bilal bagi orang-orang musyrik sangat mengganggu, maka bagi umat Islam itu menjadi penyemangat hidup dan pelipur lara. Apabila selesai mengumandangkan adzan, Bilal tak kuasa mengendalikan emosinya hingga dia pun sedih, menangis dan pingsan, sementara orang-orang yang ada di sekitarnya ketakutan dan kota Madinah bergemuruh karena terkenang kisah Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam.

Suatu malam sepeninggal Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam, Bilal mengumandangkan adzan di waktu sahur. Kemudian Bilal menaiki atap masjid Nabawi. Tatkala Bilal mengumandangkan kalimat “Allâhu akbar Allâhu akbar”, kota Madinah pun bergemuruh. Tatkala Bilal mengumandangkan kalimat “Asyhadu allâ ilâha illallâh”, kondisi kota Madinah pun semakin bergemuruh. Tatkala Bilal mengumandangkan kalimat “Asyhadu anna muhammadarrasûlullâh”, orang-orang pun keluar dari rumah mereka, hingga pada hari itu menjadi hari yang paling banyak orang menangis. 

Ketika Baitul Maqdis berhasil ditaklukkan, Amirul Mukminin Umar Radhiyallâhu Anhu pun datang ke Syam, lalu memerintahkan Bilal mengumandangkan adzan, maka Bilal berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Aku tidak ingin mengumandangkan adzan untuk seseorang setelah Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam, namun aku akan patuh kepada perintahmu bila engkau menyuruhku mengumandangkan adzan dalam shalat ini saja.” Setelah Bilal mengumandangkan adzan dan para sahabat mendengar adzannya, mereka pun menangis terisak-isak.

Lantunan adzan Bilal mengingatkan mereka akan orang yang paling mereka sayangi dan pujaan hati mereka yang berjasa menumbuhkan keimanan dalam kalbu dan penyelamat mereka. Karena itu, jiwa mereka bergemuruh, hati mereka merasa rindu kepada beliau, emosi mereka menjadi tenang dan perasaan cinta mereka bercampur aduk dalam jiwa. 

نَبِيٌّ صِدْقٍ هَدَى أَنْوَارُ غُرَّتِهِ # بَعْدَ الْعَمَى لِلْهُدَى مَنْ كَانَ عِمِّيْتَا

وَأَصْبَحَتْ سُبُلُ الدِّيْنِ الْحَنِيْفِ بِهِ # عَوَامِرًا بَعْدَ أَنْ كَانَتْ أَمَارِيْتَا

أَحْيَا بِهِ اللهُ قَوْمًا قَامَ سَعْدُهُمُ # كَمَا أَمَاتَ بِهِ قَوْمًا طَوَاغِيْتَا

“Nabi yang jujur telah menunjukkan kemilau cahayanya setelah sebelumnya orang yang buta tak mampu melihat petunjuk.

Dengan beliau, jalan-jalan agama yang lurus penuh setelah sebelumnya kosong.

Dengan beliau, Allah menghidupkan satu kaum yang berbahagia sebagaimana juga Dia mematikan kaum penyembah berhala.”

Sikap para sahabat seperti itu adalah sebuah kewajaran, karena batang pohon kurma saja menangis lantaran rindu kepada Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam. Bahkan gunung Uhud bergetar untuk mengekspresikan perasaan cinta dan hormat kepada beliau. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami rasa cinta kepada Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam dan mengikuti Sunnah beliau, kumpulkanlah kami dalam rombongan beliau dan berikanlah syafaat beliau kepada kami.

Saudara-saudaraku kaum muslimin!

Sabar adalah kunci keberhasilan. Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai sedangkan neraka dikelilingi dengan hal-hal yang disukai. Allah Subhânahû wa Ta’âla pasti menolong agama-Nya seperti halnya Dia menolong kaum muslimin yang tertindas di Makkah dan wali-wali-Nya sebelum dan sesudahnya.

Allah Subhânahû wa Ta’âla berfirman,

﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَ (٤) بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٥) وَعْدَ اللَّهِ لاَ يُخْلِفُ اللَّهُ وَعْدَهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ (٦)﴾ [الروم: ٤ – ٦]

“Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu orang-orang yang beriman bergembira, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Ar-Rûm [30]: 4-6)

اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللَّهُمَّ أعَزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakanlah Islam dan umat Islam, serta menangkanlah hamba-hamba-Mu yang bertauhid. Ya Allah, jadikanlah negeri ini dan seluruh negeri umat Islam aman dan tentram.

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلاَدَنَا مِنَ الْفِتَنِ، اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلاَدَنَا مِنَ الْفِتَنِ، اللَّهُمَّ احْفَظْهَا مِنْ كَيْدِ الْكَائِدِيْنَ، وَمِنْ شَرِّ الْمُفْسِدِيْنَ، وَمِنْ شَرِّ الأَعْدَاءِ وَالْحَاسِدِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, lindungilah negeri kami dari fitnah. Ya Allah, lindungilah negeri kami dari fitnah. Ya Allah, llindungilah negeri kami dari tipu daya orang-orang yang melakukan reka perdaya, dari keburukan orang-orang yang merusak, dan dari kejahatan musuh-musuh serta orang-orang yang hasud, wahai Tuhan semesta alam.

اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ بِتَوْفِيْقِكَ، وَأَيِّدْهُ بِتَأْيِيْدِكَ، وَأَعِزَّ بِهِ دِيْنَكَ، اللَّهُمَّ اجْزِهِ عَلَى مَا قَامَ بِهِ مِنْ خِدْمَةِ سُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ الْجَزَاءِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ عَمَلًا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، مُوْجِبًا لِلْفَوْزِ لَدَيْكَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيْمِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ لِمَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَلِمَا فِيْهِ صَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, bimbinglah pemimpin kami Khadimul Haramain Asy-Syarifain dengan taufik-Mu, kuatkanlah dia dengan sokongan-Mu, dan muliakanlah agama-Mu dengannya. Ya Allah, balaslah dia atas jasanya melayani Sunnah Nabi-Mu Shallallâhu Alaihi wa Sallam dengan balasan terbaik. Ya Allah, jadikanlah amal kebajikannya ikhlas karena mencari wajah-Mu yang mulia dan mendatangkan keuntungan di sisi-Mu di surga yang penuh nikmat dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi. Ya Allah, bimbinglah putra mahkotanya untuk melakukan apa yang baik bagi Islam dan umat Islam, serta kemaslahatan negara dan bangsa, wahai Tuhan semesta alam.

اللَّهُمَّ احْفَظْ حُدُوْدَنَا، وَانْصُرْ جُنُوْدَنَا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَتَقَبَّلْ مَوْتَاهُمْ، وَاحْفَظْهُمْ بِحِفْظِكَ، وَاكْلَأْهُمْ بِرِعَايَتِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

Ya Allah, lindungilah wilayah perbatasan kami dan tolonglah pasukan kami, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, sembuhkanlah yang sakit dari mereka, terimalah yang meninggal dari mereka, jagalah mereka dengan penjagaan-Mu, dan peliharalah mereka dengan pemeliharaan-Mu, wahai Tuhan semesta alam.

اللَّهُمَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا، سَحًّا غَدَقًا طَبَقًا مُجَلِّلاً، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلاً غَيْرَ آجِلٍ بِرَحْمَتِكَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللَّهُمَّ تُحْيِي بِهِ الْبِلاَدَ، وَتَجْعَلْهُ بَلاَغًا لِلْحَاضِرِ وَالْبَادِ.  اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ، لاَ سُقْيَا عَذَابٍ وَلاَ هَدْمٍ وَلاَ بَلاَءٍ وَلاَ غَرَقٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkau Maha Kaya sedang kami fakir, Engkau Maha Kaya sedang kami fakir. Turunkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau menjadikan kami orang-orang yang berputus asa. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan yang membawa kesejahteraan, kesuburan, tercurah, melimpah, merata, bermanfaat, tidak menimbulkan bencana, turun dengan segera tanpa ditunda-tunda, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi. Ya Allah, hidupkanlah negeri ini dengan hujan serta bawalah air hujan tersebut ke wilayah perkotaan dan pedesaan. Ya Allah, turunkanlah hujan yang membawa rahmat, bukan hujan siksaan, merusak, balas, dan banjir, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, kirimkanlah awan yang membawa hujan di atas kami, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.

Hamba Allah!

صَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى مَنْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا﴾ [الأحزاب: ٥٦].

Bacalah shalawat dan salam kepada hamba yang diperintahkan Allah untuk mencurahkan shalawat dan salam kepadanya, lalu Dia berfirman, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al Ahzâb [33]: 56)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana berkah yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi keluarga Ibrahim dan keluarga Ibarahim di seluruh alam semesta. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. 

وَاْرضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, ridhailah Khulafa Ar-Rasyidin, yaitu: Abu Bakar, Umar Ustman, dan Ali. Ridhai juga seluruh sahabat. Ridhai pula kami bersama mereka dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.